Puisi Cinta Sejati Era Hujan

 Karena tidak semua orang sanggup memberikannya Puisi Cinta Sejati Kala Hujan






Microgist. Kita selalu terpana pada kesetiaan, kasih sayang, pengorbanan. Karena tidak semua orang sanggup memberikannya. Hanya orang-orang terpilih saja yang boleh menikmati kemewahan budi pekerti luhur itu.

Senja kali ini, sembari ditemani renyai gerimis, kembali kami sajikan seulas puisi cinta sejati; cinta yang membesarkan, cinta yang berisikan kesetiaan, pengorbanan, pengertian, perhatian, dan kehendak untuk membahagiakan.

Di antara hiruk pikuk kehidupan ini, marilah sejenak kita mengembarakan jiwa. Melihat dimensi-dimensi lain dari kehidupan yang mungkin terlupakan alasannya rutinitas.

Puisi cinta sejati ini hanyalah ungkapan dari gema bunyi di kedalaman jiwa.

***

Puisi Cinta Sejati di Gemarai Hujan

Dengarlah kekasihku.
Hari ini saya tak sanggup menahankan
Gelora cinta yang berkecamuk di dada

Cinta ialah kekayaanku yang tersembunyi
Ia jalinan atap yang senantiasa memaksaku memberimu keteduhan;
sungai yang tak pernah berhenti menuju arungan pengorbanan;
dan tali kesetiaan yang tiada pernah putus di tengah zaman.

Cintaku menyerupai air
Terpendam jauh di lubuk bumi 


Mungkin waktu membuatnya mengalir;
merayap perlahan-lahan ke samudra

Lalu terangkat ke angkasa
menjadi awan-awan dan mega

Tetapi ia selalu rindu untuk kembali;
Kembali menemui wajah sang bumi.

Maka begitulah.
Jiwa ini memanggil diriku
Dengan dentam kerinduan menggetarkan
Agar menemuimu, dan merajut hidup dalam kebersamaan.

Meskipun angkasa menjadi sendu,
meskipun petir mencambuk diriku;
langit menjerit dan mengguntur dengan bunyi menggelegar;
saya tetap turun menemuimu.

Air hujan senang manakala menyentuh hijaunya bumi;
dan bumi akan segar alasannya pertemuannya dengan sang kekasih.
Karena mereka ditakdirkan untuk selalu bersama.
Hari ini, esok, dan nanti.

Begitulah takdir cintaku untukmu, kekasih.
Selalu untukmu: kemarin, hari ini, juga esok hari.


Bait Puisi Cinta Sejati

Pernahkah kamu dengar gema-gema cintaku?
Yang memantul-mantul indah di dinding sanubari
Mengajarkanku arti cinta sejati
Yang kan kuberikan untukmu

Dengarlah.
Karena cinta jualah
Aku bersedia menjadi pendengaran yang mendengarkan celotehmu;
menyimak segala keluhanmu; dan memperhatikan setiap kata-kata dari lisanmu.

Akulah bahu tempatmu bertopang;
menguatkan kala kamu terjatuh;
tempatmu bersandar kala bersedih.

Karena cintaku ialah cinta yang memperlihatkan kebahagiaan,
bukan cinta yang menuntut biar engkau membahagikan diriku.


Sumber https://microgist.blogspot.com/

Click to comment