3 Dimensi Merajut Rumah Tangga Harmonis


 Dimensi Dalam Merajut Rumah Tangga Harmonis 3 Dimensi Merajut Rumah Tangga Harmonis

MICROGIST. Mahligai rumah tangga itu sedikit unik. Seorang sastrawan pernah menyampaikan komitmen nikah dan rumah tangga menyerupai kandang burung. Orang-orang yang belum menikah ingin sekali memasukinya. Sebaliknya orang-orang yang sudah berada di dalamnya sangat besar lengan berkuasa keinginannya untuk melepaskan diri dari kurungan itu.

Mungkin saja sang sastrawan itu mengalami rumah tangga yang muram, dimana cinta dan kebahagiaan tidak pernah bersemi di sela-sela kehidupan rumah tangganya.


Objektif Demi Rumah Tangga Harmonis

Memang agak asing ketika seseorang tetapkan menikah atas dasar rasionalitas. Karena pada kenyataannya, menyatunya dua jiwa dalam komitmen nikah seringkali diawali dengan keputusan emosional yang disebut cinta.

Betapapun demikian, cara pandang objektif setidaknya sanggup membantu memperkokoh bangunan rumah tangga harmonis. Tiga butir contoh pikir di bawah ini mewakili cara pandang objektif dalam konteks rumah tangga.


Terima Apa Adanya: Rumah Tangga Akan Bahagia

Tantang lah diri Anda sendiri untuk menemukan satu orang di dunia ini yang sempurna? Tidak mungkin kita menemukannya. Bahkan diri Anda sendiri tidak sempurna.

Maka di sini kita berguru mendapatkan pasangan hidup apa adanya. Dan yang dimaksud dengan apa adanya ialah bahwa ia mempunyai kelebihan dan kekurangan.

Mau tidak mau kita mesti rasional dan mendapatkan kenyataan itu. Agaknya kita mustahil memaksakan diri mendapatkan pasangan persis sesuai dengan kriteria. Tidak mungkin.

Dengan mendapatkan apa adanya, kita juga bisa melihat dari sisi manakah aku mendapatkan kebahagiaan darinya? Apakah dari tingkat intelektualitasnya, kedermawanannya, kecantikan atau ketampanannya, ataukah yang lainnya.

Kita bisa saja mendapatkan kebahagiaan dari tingkat kedewasaannya, tetapi mungkin dari sisi wajah ia pas-pasan (tidak jauh beda dengan diri kita :)). Atau bisa jadi kita senang alasannya ia seorang pekerja keras, namun di sisi lain ia agak sulit mengeluarkan uangnnya untuk orang lain alias pelit.

Nah, kenyataan itu lah yang mesti kita terima. Dan mestinya kita sudah tahu dari awal: apa yang menciptakan kita jatuh cinta padanya berulang kali, dan sifat apa yang kira-kira tidak disukai sebagai kekurangannya.


Mencintai Sepenuhnya

Langkah kedua sesudah mendapatkan apa adanya ialah menyayangi ia sepenuh hati. Apa lagi yang sanggup kita lakukan biar berbahagia kecuali mencintainya dengan segenap jiwa.

Di masa kemudian bolehlah kita jatuh hati: saat-saat dimana kita terkesima oleh kerupawanan wajah, keluhuran budi pekerti, keteduhan senyumannya.

Ketika Anda sudah bersanding bersama, menyayangi lebih penting daripada jatuh cinta itu sendiri. Mencintai ialah kata kerja. Anda proaktif bukannya pasif. Anda memberi perhatian dengan penuh kesadaran.

Anda berupaya mengisi setiap relung hatinya dengan embun kebahagiaan, memakmurkan hatinya dengan ketentraman, dan menyejahterakan jiwanya dengan kedamaian. Di sinilah tugas Anda biar rumah tangga serasi terwujud di dunia nyata.


Menyempurnakan Sebisanya

Sejauh ini kita mengetahui apa saja kelebihan dan kekurangannya. Adakalanya kita tidak bisa begitu bertoleransi dengan kekurangannya. Untuk itu, pekerjaan selanjutnya ialah menyempurnakan kepribadiannya.

Rumah tangga serasi mustahil mewujud menjadi kenyataan kalau salah satu pihak sekedar menuntut. Ya menuntut biar pasangannya berubah begini dan begitu. Atau lebih parah lagi, mencelanya dengan bertanya, "Mengapa kau begini, kenapa begitu?" atau "Kamu harusnya begini.... jangan begitu..."

Menuntut itu sangat gampang dan gampang pula rumah tangga berada di ambang kehancuran karenanya.

Maka pilihan terbaik ialah bukan menuntut, melainkan menyempurnakannya. Seandainya kita melihat ia kurang berwawasan, kitalah yang mesti membiasakan dirinya memberi asupan-asupan pengetahuan yang bergizi.

Jika ia termasuk orang yang tidak perhatian, maka kita bantu ia biar menjadi eksklusif penuh perhatian.

Jika ia kurang percaya diri, sedapat mungkin kita tumbuhkan rasa percaya diri padanya. Itulah yang dimaksud dengan menyempurnakan. Sehingga kekurangannya tidak menjadi alasan retaknya rumah tangga. Melainkan menjadi watu ujian sejauh mana kemampuan kita untuk mencintainya.


Ringkasnya...

Merajut rumah tangga serasi dimulai dengan contoh pikir objektif. Karena contoh pikir objektif berbuah action yang juga objektif.

Dan tiga dimensi yang sanggup mengharmoniskan dua jiwa dalam rumah tangga itu adalah:
  • Menerima apa adanya
  • Mencintai sepenuh-penuhnya
  • Menyempurnakan sebisa-bisanya
Tiga action itu akan berhasil dalam merangkai kebahagiaan rumah tangga, bila disertai alunan doa yang terus bergema; menjadi kunci dalam merengkuh rumah tangga bahagia.



Photo credit by: www.misskatecuttables.com
Sumber https://microgist.blogspot.com/

Click to comment