Puisi Cinta Kahlil Gibran Gemarai Gerimis Senja

 Puisi Cinta
Mengapa puisi cinta Kahlil Gibran selalu disukai hampir oleh setiap generasi? Banyak pengamat yang menyampaikan karya-karya Kahlil Gibran sangat memikat dengan sentuhan-sentuhan kemanusiaannya. 

Aura ketimuran pada penyair asal Lebanon ini begitu kental. Bahkan sebagian menyatakan karya-karya Gibran sangat mistis. 

Tulisan-tulisannya tidak mengikuti kaidah-kaidah puisi yang ada. Ia bertutur seakan-akan itu ialah gema jiwanya. 



Puisi Cinta Gerimis 

Dan bergemarailah gerimis senja.

Mengalunkan gema sendu dalam hatiku.  
Karena gerimis serupa dengan dirimu. 

Ia begitu cantik. Ujung kakinya melentik-lentik mengecup Bumi. Bak bidadari dengan tarian terindah yang dimilikinya. Dan suaranya renyai di telingaku. Membangunkan kenangan masa silam dulu: indah tak terungkapkan kalimah syahdu.

Gerimis turun lagi. 
Seringan kapas di telapak tangan sang angin. 
Maka begitu pula dengan kerinduan dan cintaku
Ia perlahan-lahan turun memenuhi dada
Ke alam surga jiwaku dibawa.

Kekasihku. Marilah di senja nan indah ini kita letakan segala keresahan sepanjang hari. Tubuh ini telah letih merawat sawah dan ladang. Kini telah datang waktu untuk merawat cinta kita. 

Betapapun setiap waktu berjumpa denganmu, jiwa ini merindukan jenak-jenak kemesraan. Duduklah setenang mungkin. Akan kubuatkan untukmu segelas teh hangat. 


Kekasihku. Duduklah mesra di sampingku. Tidak kamu ingin bercerita perihal masa-masa lalu, dikala berdua kita bekerja di bawah gerimis? Di ladang milik kita yang dipenuhi hamparan masa depan?

Masa-masa penuh keindahan. Betapa indahnya kukenangkan dikala butir-butir hujan membasahi pipi cantikmu. Sambil memetik setangkai gandum kamu tersenyum memandangku.

Aku mencicipi jiwa ini dicurahi kasih sayang tiada bertepi. Beribu-ribu malaikat seolah turun menaburi kita berdua dengan cinta serta kasih. 

Masa-masa sulit menyerupai itu bukannya tanpa keindahan. Justru di sanalah beribu kenangan tersimpan. Menjadi materi dongeng untuk kita berdua. 



Puisi Cinta Kahlil Gibran Gemarai Gerimis Senja, Microgist. 2015.

Sumber https://microgist.blogspot.com/

Click to comment